KEKUATAN DAYA PIKIR

Steve Jobs sudah menginggalkan kita semua. Kepergiannya diiringi derasnya komentar, mulai dari Presiden Obama, bahkan para kopetitor, mengenai kehebatan cara berfikir serta kapasitas inovasinya. Tidak ada yang menyangkal bahwa Jobs adalah seorang jenius yang sulit tergantikan dan melegenda.

 

Berbagai bentuk kecanggihan teknologi computer dan gadget yang dulu sama sekali tidak pernah kita bayangkan, nyatanya bisa terwujud dan kita nikmati berkat kejeniusan dan ketajaman pemikirannya. Sedikit banyak, tentu kita berdecak kagum dan tergelitik oleh daya piker serta spirit inovasi yang ia tunjukan. Mampukah kita juga menghidupkan spirit inovasi yang ia tunjukan. Mampukah kita juga menghidupkan spirit inovasi pada diri kita, sehingga kita pun senantiasa bisa member nilai tambah pada tim kerja, lingkungan, dan bangsa kita?

 

Di beberapa perusahaan, seperti Apple, kreativitas membuat perusahaan menjadi superkaya karena nilai kreasinya. “ini 1996 Aplle was in debt of 650 milion usd, and now they have more cash than the US treasury of 76.4 billion usd”. Kita tentu bertanya-tanya, apakah Steve Jobs melakukan penciptaan ide secara “solo” alias sendirinya? Hal ini dijawab oleh seorang ahli manajemen, Scott Black. Ia berkomentar, “The key thing is, this guy is a genius not onlu at design, but also at tapping into an idea before anyone else.” Jadi, khambatan Steve Jobs adalah bagaimana ia memetik buah pemikiran orang lain, kemudian mengolah dan meramunya mejadi ide yang brilian. Ini tentu kabar baik untuk kita semua karena ternyata semua inovasi dan hasil pemikirannya yang hebat, berasal dari sekelompok orang di perusahaan. Donald Blohowik, penulis buku “How To Lead Your Staff To Think Like Einstein, Create Like da Vinci and Invent Like Edison”, mengingatkan kita bahwa asset perusahaan yang paling penting adalah otak atau pemikiran yang ada di kepala setiap individu. Namun, betapa sering kita tidak mempertanyakan apakah setiap otak di perusahaan itu sudah dioptimalkan?

 

Kita pasti menyadari bahwa usaha untuk menumbuhkan kreativitas di perusahaan memang bukan tanpa hambatan. Ketika ada usulan menggantikan praktik lama ke cara baru, pernahkah kita mengatakan, “kita tidak pernah melakukan cara seperti itu sebelumnya…”. Donald Blohowiak menggambarkan keadaan itu sebagai fenomena “idea Inertia”, yang memikirkan dalam kondisi mati suri di perusahaan. Pernahkan kita merasa seolah tidak bisa melihat jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi? Bila ini terjadi kita juga perlu mengevaluasi apakah birokrasi dan sistem di perusahaan menghambat tumbuhnya kreativitas. Bila kita setuju bahwa kreativitas merupakan jawaban “adding value” bagi perusahaan, berbagai hambatan berfikir bebas itu perlu kita benahi.

 

Berfikir Mendalam

 

Beberapa waktu lalu, banyak perusahaan mematikan jaringan internet atau menghalangi  karyawan untuk browsing. Akses internet dikhawatirkan akan membuat karyawan sibuk dengan kegiatan yang tidak terkait dengan pekerjaan dan kehilangan focus dalam bekerja. Namun, kecanggihan teknologi memang tidak bisa dihalangi. Melalui gadget-nya, kini individu sudah terbiasa mencari informasi lewat Google, belanja online atau memesan tiket murah lewat internet. Menyadari bahwa internet juga merupakan gudang ilmu dan sekaligus sumber untuk menemukan berbagai solusi, banyak perusahaan sekarang berbalik mendorong karyawan memanfaatkan internet untuk berbagai kebutuhan kerja. Perusahaan sendiri pun kini terus mencari cara untuk mengoptimalkan dan mengefisienkan proses kerja secara online, baik pencatatan progress kerja, penerimaan order, penerimaan surat lamaran, psikotes, maupun penilaian karyawan. Jika derasnya informasi dan kecanggihan sistem  internet ini tidak bisa kita bending, kita tentu berstrategi dan menyiasati untuk mengoptimalkan keuntungan dari informasi tersebut, memaksimalkan dampak positif yang dapat kita dapatkan.

Kita tahu beberapa perusahaan sudah tidak menggalakan perpustakaanya lagi, mengigat informasi yang lebih terkini mengenai segala macam pengetahuan yang dibutuhkan ada di internet. Tidak sedikit perusahaan yang mengelola “knowledge management”  untuk mengambil manfaat dari informasi dan ilmu yang ada. Kita tak bisa menutup mata bahwa banyaknya infomasi yang tersedia dari internet malah terkadang dalam. Sering kali informasi yang diunduh masih mnetah dan sebatas apa yang diperluakan saja. JIka ingin mendapat manfaat dari internet, kita perlu memikirkan juga seberapa seriuskah kita memfasilitasi dan mendorong individu “insight”,  pemahaman, focus, dan penilaian yang lebih dalam?

 

AJAK INDIVIDU BERFIKIR

Semua orang tahu bahwa “thinking is the core of most professional work”. Namun, berapa sering kita mengalami kegiatan brainstorming  direspons oleh anggota tim secara sopan, tetapi tidak melahirkan terobosan yang berdampak.kita tahu bahwa setiap individu, selain memiliki pemikiran juga pasti menganut nilai dan keyakinan tertentu. Kebutuhan individu pun berbeda, sehingga pikiran setiap individu berbeda. Bila ingin memahami individu, kita juga perlu mendalami persepsi dan cara berpikir setiap orang.  Kepandaian Steve Jobs justru pada menemukan esensi dari bagaimana para anggota timnya “melihat” suatu gejala. Justru dari keberbedaan persepsi inilah kita bisa mengintegrasikan beberapa pemikiran baru ke dalam solusi dan terobosan berpikir.

Bila para profesional tidak “ditagih” pemikirannya dan tidak diminta untuk mengendapkan semua pengetahuannya, berpikir, menganalisis, dan mengelurakan beberapa ide, sering kali daya pikira yang ada tidak membuahkan hasil apa pun. Betaparuginya bila pengetahuan dan informasi yang ditemukan agar menjadi informasi yang relevan buat perusahaan dan bila digunakan serta diimplementasikan. Tantangan kita adalah membangun kebiasaan yang membawa tim ke dalam rasa ingin tahu terus – menerus dan menjadikan kegiatan berpikir sebagai gaya hidup. Saat ini terjadi seolah akan tercipta doronga untuk menantang status quo dan mendobrak batasan batasan lama yangsudah basi.

Tentukan diksi (pilihan kata) dan analisis diksi tersebut

KOMPAS KALSIKA (Sabtu, 8 Oktober 2011)

Artikel “KEKUATAN DAYA PIKIR”

 

Istilah  :

Gadget                                                = Perangkat kecil berteknologi canggih

Kompetitor                                        = Saingan

Apple                                                   = Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang IT

Browsing                                            = Mencari informas di internet

Online                                                  = Berjelajah di internet

Brain Storming                                 = team pemecah masalah

Google                                                = Mesin Pencari

Status Quo                                         = Keaadaan yang statis

 

Menurut kami terdapat beberapa pilihan kata yang kurang cocok digunakan dalam artikel ini

 

 

  1. , Nyatanya                                                   yang seharusnya tanpa koma menjadi “Nyatanya”
  2. Sedikit banyak,                                          yang seharusnya “Kurang lebih”
  3. Kita pun                                                        yang seharusnya Kita juga
  4. Kreasinya.                                                    yang seharusnya tanpa tanda baca titik
  5. Jadi,                                                                yang seharusnya tanpa tanda baca koma
  6. Adalah pada bagaimana                         yang seharusnya tanpa kata “pada”
  7. Orang lain, kemudian                              yang seharusnya “orang lain kemudian
  8. Hebat,                                                           yang seharusnya tanpa tanda baca koma
  9. Namun,                                                        yang seharusnya tanpa tanda baca koma
  10. Yang pemikiran dalam kondisi             yang seharusnya “Yang pemikirannya dalam kondisi”
  11. Menggalakkan                                           yang seharusnya “mengharuskan”
  12. Lebih terkini                                                yang seharusnya “sekarang”
  13. Yang lebih dalam ?                                   yang seharusnya tanpa tanda Tanya (bukan pertanyaan)
  14. Secara spontan, tapi                                yang seharusnya Tanpa tanda koma
  15. Berbeda, sehingga                                   yang seharusnya tanpa tanda koma
  16. “Melihat”                                                     yang seharusnya tidak perlu menggunakan kutip dua
  17. Keberbedaan                                             yang seharusnya “Perbedaan”
  18. Buat                                                               yang seharusnya “untuk”
  19. Dan bisa                                                        yang seharusnya “dan dapat“
  20. Ingin tahu terus – menerus                  yang seharusnya “Ingin tahu yang besar”
  21. .Saat ini terjadi                                           yang seharusnya menggunakan tanda koma
  22. Sudah basi                                                   yang seharusnya sudah tidak terpakai

 

Kelebihan dan Kekurangan artikel ini:

Artikel ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dalam lingkup dunia komputer

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: