Terorisme sebagai Ideologi yang Keliru

Jika anda pernah memainkan game Counter Strike yang merupakan game taktikal yang mengandalkan teknik bertarung dengan senjata api, tentunya sangatlah mengasyikan. Dimana ada dua kelompok yang bertarung yaitu kelompok Polisi khusus dengan kelompok Teroris.

Namun pada tulisan kali ini saya tidak akan memuat tentang game tersebut, melainkan menjelaskan tentang Teroris di kehidupan nyata. Terorisme dapat dikatakan sebagai serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror/terancam terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

Namun pada saat ini istilah terorisme sering sekali dihubungkan dengan dunia Islam dan jihad yang sebenarnya sangatlah keliru. Sebenarnya Islam sangatlah mengajarkan kedamaian dan keselamatan seperti ajaran agama lainnya pada umumnya, dan istilah mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”.

Padahal Terorisme sendiri adalah salah satu bentuk dari Ideologi / pandangan hidup yang sangat keliru dan sesat, sangat jauh dari ajaran agama manapun. Tapi terdapat beberapa kelompok yang sering mengambil keuntungan dengan memakai tameng agama untuk melindungi tindakannya yang kejam.

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon.

Dan di Indonesia juga turut merasakan aksi terorisme ini berbagai kejadian seperti :

  1. Bom di depan kediaman Dubes Filipina (1 Agustus 2000)
  2. Bom Bursa Saham Jakarta (13 September 2000)
  3. Serangkaian pengeboman menjelang Hari Natal (Desember 2000)
  4. Bom Bali I (12 Oktober 2002)
  5. Bom di restoran McDonald, Makassar (5 Desember 2002)
  6. Bom di depan Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta (5 Agustus 2004)
  7. Bom di kafe karaoke di Poso (10 Januari 2004)
  8. Bom di depan Kedutaan Besar Australia (9 September 2004)
  9. Bom di Pasar Tentena (28 Mei 2005)
  10. Bom bunuh diri Bali II (2 Oktober 2005).

Karena itu, kerja sama seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, ormas, dan kepemimpinan sosial sangat mutlak dalam pemberantasan terorisme. Terorisme atas alasan apa pun tidak bisa dibenarkan dan terorisme adalah salah satu bentuk paling telanjang dari kejahatan terhadap kemanusiaan. Bersama-sama bahu-membahu memberantas terorisme merupakan usaha mulia untuk melindungi kemanusiaan.

Referensi :

http://www.google.com

http://www.id.wikipedia.org

Republika, 23 Juli 2009

Penulis: Yuris

22:13 – 19 Mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: