Ada Pelangi di Langit-Mu

“Pelangi-pelangi alangkah indahmu,

merah, kuning, hijau, dilangit yang biru,”

Begitulah penggalan lagu yang sering sekali dinyanyikan oleh setiap anak Indonesia. Hampir semua anak kecil menyukai pelangi, mungkin karena pelangi memiliki banyak warna yang menjadikan mereka terlihat sangat indah.

Begitu pula pelangi yang dua minggu lalu saya lihat dari Jl. Jend Gatot Subroto terlihat sangat indah. Padahal sudah jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah terlihat pelanggi di kota besar seperti Jakarta.

 

Pelangi atau bianglala adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.

Namun bagaimana fenomena alam ini bisa terjadi?

Bagaimana ia terbentuk?

Kapan dia terbentuk?

Berikut adalah jawabannya!

 

Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik (terdiri dari banyak warna). Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Mata manusia sanggup mencerap paling tidak tujuh warna yang dikandung cahaya matahari, yang akan terlihat pada pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu (sering di singkat MeJiKuHiBiNiU).

Panjang gelombang cahaya ini membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut spektrum. Di dalam spektrum, garis merah selalu berada pada salah satu sisi dan biru serta ungu di sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.

Pelangi tidak lain adalah busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi di dalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.

Cahaya keluar kembali dari tetesan air ke arah yang berbeda, tergantung pada warnanya. Warna-warna pada pelangi ini tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.

Dan butiran air ini bisa didapatkan setelah langit mengalami hujan yang lebat, atau pada saat awal hujan kecil. Bahkan butiran air ini bisa didapatkan di daerah air terjun yang besar. Maka dari itu jika ingin melihat pelangi setiap saat maka kunjungilah air terjun, disana akan terlihat pelanggi jika cahaya matahari melintasi butiran-butiran air itu, namun dengan beberapa syarat seperti berikut.

Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi si pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air dengan matahari dibekalang orang tersebut.

Matahari, mata si pengamat dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: